Make your own free website on Tripod.com
logo gusdurnet

top.gif (1689 bytes)

spacer gif
spacer gif
spacer gif
 
halaman muka
politik
ekonomi
opini
klasik
gusduria
 

kontak redaksi



spacer gif
spacer gif

Sederhana, Syahdu

Oleh Abdurrahman Wahid


Bangunan berbentuk segi delapan itu tidaklah tinggi. Tidak pula berukuran besar. Paling tinggi sepuluh meter. Garis tengah penampangnya tidak lebih dari duapuluh lima meter. Dikitari halaman rumput biasa tanpa taman, dindingnya terbuat dari batu bata merah tanpa ‘plester kapur’ (apalagi dengan hiasan rural atau bas relief ) tidak ada tanda-tanda kemegahan apa pun di pasang di luar.

Pada tengah atapnya ada atrium yang menjadi jalan masuknya cahaya matahari kedalam ruangan.cahaya itu kemudian disangga oleh sebuah reflektor penyangga yang digantungkan pada dasar atap dan bagian atas dinding dalam ruangan utama. Pantulan cahaya yang didapat adalah sinar lembut yang tidak membuat mata silau.

Ruang dalamnya terbagi dua. Beberapa buah ‘ruang samping’ mengitari ruang utama di dalam seperti cincin mengitari penampang ibu jari.

Semua ruang samping itu mempunyai pintu masuk langsung ke ruang utama itu .Ruang utama, sebagai tempat pagelaran bergaris tengah tidak lebih dari 15 meter, sama sekali tidak berhiaskan ornamen apa pun. Tidak ada lukisan pada ke delapan dindingnya, tidak ada struktur apapun di lantai yang ada hanya dinding telanjang, mengitari lantai yang telanjang pula, disinari keredupan cahaya lembut yang datang dari luar. Kapel Rothko ini memang unik. Didirikan oleh jutawan de Menil, ia merupakan perlambang kerohanian yang sangat pekat. Benar serba sederhana, tetapi  ia adalah ekspresi yang penuh keterlibatan jiwa dari pemahat Amerika yang terkemuka, mendiang Rothko.

Tidak sebagaimana berbagai bangunan antar agama (interdenominational buildings) lainnya, Kapel Rothko di Houston (Texas) ini sama sekali bebas dari afiliasi kepada agama manapun. Kalau Katedral Nasional di Washington masih ‘berbau’ Kristen karena bentuk Gotiknya dan Kapel Wayside di Sydney masih menggunakan altar, maka Kapel Rothko ini justru tidak ada kaitan fisiknya sama sekali dengan tempat peribadatan mana pun.

‘Alat’ peribadatan tidak ada terpasang permanen dalam ruangan utama, sehingga semua harus membawa sendiri ke dalam ruangan itu untuk dipergunakan, dengan menggunakan cara bongkar pasang. Kalau orang Katholik ingin menggunakan untuk misa, mereka membawa sendiri altar mereka. Orang muslim boleh menghamparkan tikar sembahyang mereka dan menghadapkannya ke arah kiblat di tenggara.

Bermacam-macam upacara keagamaan dapat dilakukan di kapel yang sudah berusia tujuh tahun ini. Dom Helder Camera, itu uskup agung penentang rezim fasis di Brasilia sekarang pernah menyelenggarakan misa spontan - sudah tentu dengan himbauan yang mengharukan akan nasib mereka yang miskin dan tertindas di negaranya. Beberapa orang Swami dari India pernah mengadakan meditasi dan peragaan Yoga. Kelompok Yahudi  pernah merayakan upacara keagamaan mereka di tempat ini, sedangkan kelompok Sufi Turki Mevleviah yang terkenal dengan sebutan The Whirling Dervishes (darwys: berputar) - karena tari-tarian keagamaan mereka dikala  mencapai ekstase -pernah melakukan peragaan. Sebuah foto menunjukkan ada pula sembahyang berjamaah kaum muslimin diselenggarakan di Kapel ini, demikian pula meditasi kaum Sufi California beberapa waktu sebelum kunjungan penulis. Semuanya tentu terpukau dengan kesyahduan yang meliputi ruangan pagelaran serba sederhana dari Kapel Rothko ini.

Ditengah hiruk pikuk kegiatan kota modern Houston, yang menjadi pusat bisnis dan industri minyak bumi Amerika Serikat memang unik sekali peranan kapel yang satu ini. Ia bukanlah gereja Nasrani, bukan Sinagog Yahudi. Menjadi masjid tidak memenuhi persyaratan, bukan pula kelenteng Cina atau kuil apa pun. Ditangani sehari-hari oleh seorang wanita muslim dari Libanon, Nabilah Drooby, ia adalah tempat persingahan dalam perjalanam spritual bagi mereka yang membutuhkan atau tertarik. Kalau mereka beribadat di situ, mereka bebas melakukannya, tidak lebih dari itu.

Tetapi perannya ternyata tidak terhenti hanya disitu. Di kolam depan pintu masuk ada ‘tugu somplak’ (broken obelisk)  yang dipersembahkan kepada kenangan Martin Luther King Jr. Itu pemimpin agama  berkulit hitam yang menjadi perlambang perjuangan Kristen untuk menegakkan persamaan hak bagi warga masyarakat yang berbeda warna kulit.

Di kantor Yayasan  Kapel Rothko, sebuah bangunan bersebelahan   dengan kapelnya sendiri, berbagai kegiatan kontemplatif dilakukan. Di bawah dewan pembina yang beranggotakan orang-orang Katolik, Kristen, Muslim dan Yahudi, yayasan ini menyelenggarakan berbagai forum serius untuk menggali pola interaksi kehidupan rohani berbagai agama dengan kehidupan.

Aktivitas harian yayasan ini, seperti madame Drooby, dibantu staf administratif dan seorang ilmiawan wanita dari  Romania. Staf itu semuanya terdiri dari wanita, dan kini tengah mempersiapkan Coloquium tentang spiritualitas dan keadilan sosial dalam Islam

Siapa bilang Kapel Rothko ini tidak melakukan sesuatu yang besar, hanya karena secara lahiriah ia menyediakan tempat beribadah yang sangat sederhana? Bukankah justru kesederhanaan itu, ditambah fungsi jangka panjangnya yang vital dalam pemikiran kontemplatif di bidang keagamaan, yang memunculkan keharuan dan kesyahduan yang diperlukan manusia modern dalam pergumulannya dengan kehidupan?

(Sumber: TEMPO, 9 Agustus 1980)

 

 

GusdurNet | 2000
webmaster@gusdurnet.com