Make your own free website on Tripod.com
logo gusdurnet

top.gif (1689 bytes)

spacer gif
spacer gif
spacer gif
 
halaman muka
politik
ekonomi
opini
klasik
 

kontak redaksi



spacer gif
spacer gif
Antara Gus Dur dan Mandela

Oleh Hamid Awaludin


Ketika Nelson Mandela melangkah ke luar dari penjara, setelah mendekam dan dibungkam selama 28 tahun, ia langsung menyeru, "Kita secara bersama harus hidup berdampingan secara damai, demi masa depan Afrika Selatan." Lalu, Mandela pun menyerukan dilakukannya rekonsiliasi nasional. Ia sukses mengantar kedamaian tersebut, sebab Mandela sendiri tidak pernah menunjukkan keperkasaannya sebagai tokoh karismatis kulit hitam, yang mengungguli kulit putih yang minoritas -yang pernah membungkamnya itu. Mandela juga sukses melakukan gerakan rekonsiliasi tersebut, sebab ia selalu konsisten dengan ucapan dan perbuatannya: menciptakan kedamaian di bumi Afrika Selatan, dengan cara, tidak membuat hiruk pikuk nasional.

Bagaimana kemungkinan rekonsiliasi itu di Tanah Air? Rasanya, tidak pernah tercatat dalam sejarah kontemporer bahwa republik kita ini mengalami multikrisis yang demikian parah, seperti sekarang. Krisis yang menghimpit kita begitu dalam dan meluas, sehingga terapi pemecahannya pun seolah tak ada yang mujarab. Krisis yang bermultidimensi ini kian parah lantaran antara krisis yang satu dan lainnya saling mengait. Krisis politik memicu krisis ekonomi, dan selanjutnya mengilhami terjadinya krisis sosial. Begitu juga sebaliknya. Krisis tersebut semuanya bermuara pada hilangnya kepercayaan (losing trust) semua komponen bangsa. Krisis yang kita alami kini bukan sekadar krisis politik yang menggerogoti legitimasi pemerintah, melainkan sudah membuka peluang pada goyangnya fondasi persatuan bangsa secara keseluruhan.

Karena itu, wacana rekonsiliasi nasional yang kian mengemuka belakangan ini harus mulai berangkat dari agenda bringing back the trust (kembalikan kepercayaan) antara semua segmen sosial yang terlibat, atau memiliki kaitan dengan krisis yang ada. Kita harus mengembalikan kepercayaan antara suku yang saling berseberangan paham. Kita harus mengembalikan kepercayaan antara orang Islam dan non-Islam yang ikut bertikai. Kita harus mengembalikan kepercayaan antara orang-orang Orde Baru dan kaum yang mengklaim diri sebagai kaum reformis. Kita harus mengembalikan kepercayaan antara warga negara dengan aparat negara. Kita harus mengembalikan kepercayaan antara warga negara dengan pihak swasta, dan antara warga negara satu dengan warga negara lainnya.

Untuk memulai langkah-langkah besar itu, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Pertama, semua pihak harus berdiri sejajar, tidak boleh ada yang merasa lebih dominan dari yang lain. Tidak boleh ada yang merasa lebih memiliki kekuatan daripada yang lain, sehingga yang lemah itu dijadikan sebagai kaum taklukan.

Dalam perspektif ini, posisi Gus Dur membiarkan pasukan Bansernya keasyikan memamerkan kekuatan fisik mereka, patut menjadi pertanyaan. Dengan pasukan Banser yang diasosiasikan sebagai pelindung fisik Gus Dur, pihak lain bisa secara psikologis merasa sangat lemah berhadapan dengan Gus Dur. Karena perasaan lemah tersebut, pihak yang berseberangan dengan Gus Dur, pada gilirannya merasa tidak seimbang. Dengan demikian, apa pun hasil rekonsiliasi nasional, pihak yang lemah selalu merasa sebagai pihak yang kalah. Selain itu, pameran kekuatan fisik dari semua organisasi kemasyarakatan justru pada gilirannya bisa menarik pelatuk konflik fisik, karena masing-masing kekuatan, secara langsung atau tidak, berlomba memperbesar otot. Lebih jauh lagi, membiarkan kekuatan fisik merajalela sama artinya dengan tidak lagi mempercayai negara untuk memberi jaminan keamanan.

Kedua, rekonsiliasi nasional hanya bisa sukses sekiranya Gus Dur sebagai pencetus bisa lebih arif menjadikan diri sebagai pribadi yang patut diteladani. Dalam hal ini, Gus Dur harus berlaku bijak dan menjadi pengayom semua orang. Dan yang penting, di atas segalanya, Gus Dur harus menjaga konsistensi ucapan dan perbuatan. Rekonsiliasi membutuhkan keteladanan. Sebab, rekonsiliasi adalah upaya yang lebih banyak bergerak dalam wilayah pencarian solusi secara damai. Untuk ini, suasana yang sejuk harus menjadi prasyarat utama. Suasana sejuk hanya bisa lahir sekiranya Gus Dur bisa menahan diri untuk tidak membuat kejutan kontroversial, yang mengundang hiruk pikuk seantero negeri.

Konsistensi ucapan dan tindakan itu juga penting untuk membangun saling mempercayai (trusting each other). Sayangnya, di sini Gus Dur sendiri menjadi soal. Gus Dur adalah pemimpin yang sulit ditebak, tak mudah diterka, dan tak gampang memahaminya. Yang putih boleh jadi hitam dan yang biru bisa jadi merah. Semuanya tergantung dari situasi yang menguntungkan dirinya. Dengan lancar seorang kawan mengatakan, Gus Dur memang berhak menerima gelar doktor honoris causa dalam bidang hukum dari Thailand, sebab ia lebih hebat dari pengacara yang senang membalikkan fakta, dan mahir memutar realitas. Karena wataknya yang demikian, Gus Dur rasanya sulit tampil sebagai a reliable man (orang yang bisa dipercaya). Rekonsiliasi nasional hanya bisa terwujud jika para pencetusnya adalah orang yang bisa menjadi tempat bersandar, serta konsisten ucapan dan perbuatannya. Gus Dur perlu menjadikan Nelson Mandela sebagai guru.

Hamid Awaludin, Pengamat hukum.

(Sumber: GAMMA, 23 Mei 2000)

 

 

GusdurNet | 2000
webmaster@gusdurnet.com